Memanfaatkan Media Sosial untuk Membranding Produk UMKM

Loading...

Bambang Eka Purnama

Universitas BSI Surakarta

Saat krisis melanda Indinesia terbukti yang bisa bertahan adalah UMKM (usaha mikro kecil dan menengah). Hal ini disebabkan karena tidak banyak umkm yang punya hutang besar. Rata – rata umkm mempunyai omset dibawah 500 juta. Produk – produk lokal yang banyak digunakan untuk kebutuhan sehari – hari merupakan produk unggulan yang laris manis dipasaran nasional maupun internasional. Namun pemasaran produk umkm yang ada dimasyarakat masih sangat konvensional walaupun tidak semua. Hasil dari promosi konvensional dari referensi teman dan mulut ke mulut masih menjadi promosi efektif. Padahal produk umkm ini banyak diminati oleh publik. Metode pembayarannyapun masih menggunakan cara konvensional

Sekarang apa masalahnya ? UMKM harus mendapatkan support dan pendampingan agar mempunyai pemahaman yang maju kedepan dan berwawasan luas. Darimana kita memulai menyentuhnya ? Lihat dulu produknya, apakah produk solusi, fashion, makanan atau handycraft dan sebagainya. Dengan mengetahui kategorinya maka kita akan tahu apakah produk yang dihasilkan bisa bertahan lama atau tidak, sebagai contoh makanan. Setelah mempunyai kategori kemudian lihat kemasannya. Apakah kemasannya sudah layak jual, bagus, bisa bertahan lama dan standard. Selanjutnya adalah merk, nama produk yang baik adalah yang menunjukkan produknya, misalnya singkong jalak towo, gethuk, peyek bayem. Bagaimana merk ini diletakkan pada produk yang akan dipasarkan. Setelah semua terlihat pas produk ini bisa dibranding lebih lanjut. Namun untuk produk makanan agar lebih marketteble harus mempunya PIRT beserta kelengkapannya misalnya ijin depkes.

Membranding adalah langkah gampang – gampang susah. Banyak produk dalam memperkenalkan pada publik dengan cara di lounching dengan menyewa slot khusus di televisi, ada yang dibuat advertorial, ada yang melounching di supermarket atau lokasi usaha. Semuanya dalam rangka memperkenalkan produk yang akan dijualnya. Tentu saja harus melihat budget yang dimiliki dan apakah produknya akan dipasarkan secara lebih luas. Jika produk yang dijual memang akan dipasarkan secara nasional dan budget memenuhi maka tidak ada salahnya juga.  Bagaimana dengan yang berbudge cukup saja? Website dan medsos bisa digunakan sebagai alternatif membranding produk. Sebaiknya nama domain web sama dengan nama produk agar spesifik menunjukkan produk yang akan dipasarkan. Medsos yang ada bisa digunakan, Instagram mempunyai ratting paling tinggi menurut riset, berikutnya facebook dan twitter. Ada juga media sosial loka buatan anak muda Solo yang bisa dimanfaatkan. Oorth namanya, diluncurkan tahun 2017 dan saat ini sudah menjangkau sampai nasional dan luar negeri. Media sosial ini efektif dimanfaatkan karena paling banyak digunakan sebagai publisher anak muda usia 16 – 40 tahun. Jadi kalau akan berjualan maka mempromosikan lewat media sosial menjadi sangat efektif. Saat membuat poster yang akan digunakan sebagainya menggunakan foto yang bisa memuat informasi produk sekaligus. Bisa juga ditambahkan dalam poster mengenai harga dan kontak personnya jika ada pembaca yang akan membelinya. Saat mempostingpun juga diperlukan kejelian yang baik, Bukan setiap saat.  Misalnya saat pagi jam efektifnya adalah jam 06 – 07 WIB. Hal ini merupakan prime time untuk anak sekolah yang akan pergi ke sekolah dan kantor.  Mereka sedang sarapan dan mungkin  menonton tv, disela – sela ini banyak yang dilakukan dan diantaranya adalah memegang ponsel. Jam 09 – 10 WIB merupakan saat efektif selanjutnya. Jam ini saat sesi pertama para pekerja kantor sudha sampai kantor dan selesai tugas tahap awal, yang dilakukan biasanya memegang  dan memeriksa gadget mereka. Jam 12 – 13 saat istirahat siang merupakan saat selanjutnya yang efektif. Sampai jam 18 – 17 saat sudah dirumah berkumpul dengan keluarga dan makan malam merupakan saat efektif dan yang dilakukan adalah memegang ponsel. Dan menurut riset saa terakhir untuk memegang ponsel adalah jam 20 – 21 saat akan tidur. Jam – jam yang efektif ini menurut riset paling sesuai untuk memposting iklan kita.

Bagaimana dengan iklan yang berbayar? Facebook dan Instagram memberikan alternatif dengan pembaca jauh lebih banyak dengan membayarnya. Rata – rata untuk mencapai 7000 viewer diperlukan Rp 10.0000,-. Pengguna bisa memilih koverednya dengan mkenetukan radius kmnya. Kita bisa mengukur jangkauan dari lokasi usaha kita berada dengan memperlkirakan samai dimana kira kira radus yang kita pilih. Gendernya bisa kita pilih pria saja, wanita saja atau keduanya. Kunjungan viewer juga bisa dipilih apakah untuk menambah traffic, membuat panggilan telpon atau melihat profil.  Berikutnya kita juga bisa menentukan usia viewer yang akan kita target. Untuk itu dengah berbagai pilihan tadi kita bisa sesuaikan segmen yang akan kita bidik. Pemasangan iklan di Google adsense juga efektif digunakan. Hal ini karena google sudah sangat terkenal dan menjangkau hampir seluruh penduduk dunia. Setting yang bisa kita pilihpun sama dengan Instagram. Namun google bisa jadi menjadi pilihan yang lebih luas, karena iklan kita bisa tampil di youtube dan website ataupun property partner google. Memasang iklan di media lain juga tidak salah jika budget anda cukup, misalnya media cetak dan elektronik. Kita bisa menganggapnya sama dengan mencetak brosur sebanyak oplah media cetak yang dijual. Anda juga bisa melatakkan produk anda di pasar onlie seperti bukalapan, tokopedia, shopee, lazada sebagai etalase online. Saat tertentu mereka akan mengiklankan produk kita diberbagai media onlien dan cetaknya.

Setelah anda memasa semua tahapan sudah dilakukan maka anda harus bersiap untuk menerima panggilan telepon dan menjawab pesan singkat dari kontak yang telah anda pasang di media. Pelayanan yang baik merupakan promosi paling efektif. Karena pembeli kita lebih banyak akan mengulas produk kita tanpa sengaja dan mempublikasikannya secara online. Maka pelayanan yang baik akan mempengaruhi omset anda. Universitas BSI Solo yang dikurikulumnya sudah menyiapkan mahasiswanya untuk menjadi wirausaha sangat sadar dengan kondisi ini. Mahasiswa dari awal semester sudah dibekali untuk mandiri dalam berwirausaha tanpa harus meninggalkan bangku kuliahnya. Semua bisa dikerjakan secara online di ponselnya dan bahkan tanpa modal. Jaman sekarang kita tidak perlu lagi punya kantor, produk atau etalase fisik, semuanya bisa dikerjakan dan dikelola secara online.

loading...

Related posts

Leave a Comment