Teknologi Kartu Kredit Untuk Memudahkan Transaksi Pembayaran

Teknologi Kartu Kredit Untuk Memudahkan Transaksi Pembayaran

Bambang Eka Purnama

Ketua Asosiasi Profesi Multimedia Indonesia

Suatu saat mungkin anda sedang berbelanja di suatu toko atau restoran. Saat berbelanja selesai dan anda kemudian akan membayar, anda menyerahkan kartu kredit anda. Namun kemudian sang kasir mengatakan mohon maaf bahwa di tokonya belum bisa menerima pembayaran dengan kartu. Tentu yang anda lakukan adalah memilih kembali barang anda dan menyesuaikan jumlahnya dengan isi dompet. Namun bagaimana halnya jika anda masuk ke rumah makan dan diepan ada logonya visa atau mastercard. Tentu anda tidak lagi melihiat isi dompet anda karena semua bisa diselesaikan dengan kiartu. Kedua analogi ini merupakan contoh kemudahan dari penggunaan kartu kredit yang sudah banyak dirasakan oleh banyak pemakainya. Untuk bisa memiliki kartu kredit syarat utamanya adalah gaji anda minimal per bulannya sekitar 2 juta. Hampir semua bank nasional di Indonesia mempunyai fasilitas penerbitan kafrtu kredit. Biasanya pagu terendahnya 2 – 5 juta untuk tahap awal dan akan bertambah terus jika pembayaran kita lancar atau analisis kartu kita baik.

Dulu untuk bertransaksi di internet tidak dibutuhkan cara yang rumit, sehingga cara ini banyak digunakan para carder untuk menggunakan kartu kredit orang lain tanpa sah atau saya istilahkan maling. Hanya dengan menghafal 16 digit nomor kartu kredit maka pembelian barang akan bisa didapatkan. Karena kelemahan itulah maka akhirnya verifikasi ditambah dengan tanggal expire, nama yang tertera pada kartu dan 3 digit nomor Card Verification Value (CVV) yang berada dibelakang kartu. Namun kemudian ternyata masih ditemukan kelemahan lagi yang pada akhirnya semua kartu kredit yang diterbitkan harus dipasang chip pengaman. Sebenarnya saat menggesek, di mesin pembaca menggunakan pola magnetik membaca pita hitam dibelakang kartu kredit ataupun debit anda. Pita tersebut merupakan seluloid untuk menyimpan data identitas kartu anda. Ketika digesek maka identitas tersebut akan dikirim ke server bank untuk diidentifikasi apakah kartu tersebut terdaftar dengan legal. Jika legal maka pembayaran akan diperkenankan dan sebaliknya jika tidak maka pembayaran akan di blok.

Namun kabar terakhir Kartu plastik yang sangat sakti yang sering digunakan untuk berbelanja disinyalir banyak disalahgunakan oleh kasir yang menggesekkan atau mensweep kartu ke mesin Electronic Data Capture atau EDC. Kartu ATM atau kartu kredit adalah kunci elektronik yang digunakan untuk mengkoneksikan diri seseorang kepada bank. Diri seseorang yang akan melakukan pembayaran harus memiliki akun rekening bank atau kartu kredit yang aktif. Perbedaanya adalah jika kartu debit maka kita harus memiliki deposit sedangkan kartu kredit adalah kartu yang digunakan untuk media pembayaran baru kemudian kita akan ditagih pada bulan berikutnya.

Dalam praktiknya dilapangan ternyata saat menggesek atau mensweep kartu yang kedua maka data akan disimpan oleh kasir. Atau saat kartu digesekkan pada cash register. Pemilik kartu mungkin tidak terasa karena berlangsung sangat cepat dan terasa sangat logis karena setelah menggesek di mesin cash register, loker akan terbuka. Berati pemikiran orang adalah gesekan kartu digunakan untuk membuka loker cash register dengan id pemilik kartu.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengancam akan memblack list merchant yang melakukan penggesekan ganda. Steve Marta selaku General Manager Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) mengatakan bahwa jika kartu digesek 2 x dan kasir mencatat atau memotret atau menghafalkan 3 digit nomor Card Verification Value (CVV) yang berada dibelakang kartu maka tidak menutup kemungkinan akan bisa dibuat kartu duplikatnya yang bisa digunakan untuk bertraksaksi. Mengenai chip yang berada didepan kartu tidak menjadi masalah saat kartu digunakan untuk transaksi online. Saat transaksi online chip tidak diperlukan.

Jika ada kasir yang tetap nekat mensweep 2x maka pemikik kartu berhak menolak atau melaporkan ke Bank Indonesia 131 Contact Center (BICARA) dengan menyebutkan nama merchant dan nama bank pengelola yang dapat dilihat di stiker mesin EDC. peraturan larangan gesek 2 x sudah tertuang di Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/40/PBI/2016 tentang Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran.

Masyarakat sering ditelpon dari bank untuk menawari kartu kredit dan asuransi dengan syarat yang sangat mudah. Dari sinilah salah satu data nasabah diperoleh dan dijual ke penyelenggara kartu kredit dan asuransi. Sales kartu kredit kemudian menelpon para calon nasabahnya. DIhimbau jika terjadi transaksi mencurigakan di buku rekeningnya atau tagihan kartu kredit untuk segera mengkonfirmasi kepada bank penerbit kartu.

Pada Pasal 34 huruf b, BI melarang penyelenggara jasa sistem pembayaran menyalahgunakan data dan informasi nasabah maupun data dan informasi transaksi pembayaran selain untuk tujuan transaksi pemrosesan pembayaran. Tercakup di dalamnya, yaitu larangan pengambilan data melalui mesin kasir di pedagang.

Direktur BCA Santoso menegaskan swipe atau gesek kartu harusnya hanya dilakukan pada mesin Electronic Data Captured (EDC). Penggesekan kartu diluar mesin EDC adalah menyalahi aturan.

Jadi kesimpulannya adalah memang tidak ada yang aman. Masalah keamanan adalah masalah waktu saja dan teknologi. Yang harus di antisipasi adalah perilaku kita yang tetap waspada dan saling mengingatkan kepada sanak saudara.

Related posts

Leave a Comment