Inilah “Dubang”, Durian Abang dari Banyuwangi

BANYUWANGI – Siapa yang tidak suka dengan buah tropis yang mempunyai bau khas yang harum dan berkulit tajam ini. Dengan rasa yang manis dan lembut, durian menjadi salah satu buah yang banyak diburu penikmatnya. Tapi bagaimana jika Anda menikmati ‘Dubang” atau Durian Abang yang memiliki daging warna merah? Jika tertarik maka Anda harus berkunjung ke Banyuwangi.

‘Abang’ sendiri dalam bahasa Jawa artinya merah, dan ini benar-benar nyata karena daging durian berwarna merah bukan berwarna putih ataupun kuning seperti durian pada umumnya. “Durian Merah ini hanya ada di Banyuwangi. Pohon induknya hanya ada satu di Desa Kemiren yang usianya sudah 400 tahunan lebih. Ada satu lagi di Kecamatan Songgon yang usianya lebih muda tapi menurut warga merupakan anakan dari durian merah yang ada di Kemiren,” jelas Eko Mulyanto, Ketua Pusat Penelitian dan Pengembangan Durian Merah Banyuwangi, Sabtu (26/4/2014).

Eko menjelaskan ada 63 varian yang berhasil dikembangkan dari durian merah asli Banyuwangi. Namun yang sudah dirilis baru 32 jenis dan yang bisa dimakan sebanyak 25 jenis. “Yang lain dagingnya masih tipis jadi masih dikembangkan. Sedangkan yang jenis yang layak unggul nasional ada 11 jenis varian,” katanya.

Awal pengembangan durian merah, menurut Eko, telah dilakukan sejak tahun 2007 dan hanya 3 pohon yang produktif. Namun tahun 2014 sudah ada 200 pohon durian merah yang bisa dipanen tiap tahun. “Penyebaran pohon durian merah ada di 5 kecamatan yaitu Songgon, Glagah, Kalipuro, Licin dan Giri. Dan hingga bulan April ini panen sudah 60 persen. Untuk durian merah ini juga dikembangkan di Blitar Selatan, Bogor dan Bandung. Selain itu pengembangan teknologi durian merah juga dilakukan di Thailand, Malaysia dan Korea,” jelasnya.

Eko memaparkan, durian merah juga pernah ada di Papua dan Kalimantan dan ternyata anakan awal juga dari Banyuwangi. Warna merah dari daging buah durian ada dugaan disebabkan perkawinan silang antar varietas. “Termasuk juga ada kemungkinan faktor genetis,” katanya.

Selain faktor genetis, durian merah yang ada di wilayah Kemiren mempunyai rasa yang lebih enak karena cukup mendapatkan sulfur dan juga nutrisi garam dari air laut. “Sulfur dibawa dari arah Gunung Ijen dan Gunung Raung. Sedangkan nutrisi garam air laut juga dari arah timur dan itu setiap hari gantian mendapatkan nutrisi yang cukup. Inilah salah satu penyebab rasa khas yang muncul di durian merah yang ada di Banyuwangi,” kata Eko.

Eko melanjutkan, pada bulan Feruari 2014 pihaknya telah membagikan 1.000 bibit durian merah kepada pada pedagang buah dan masih mempersiapkan 1.000 bibit lagi yang akan ditanam di Desa Kemiren. “Saya berharap agar durian merah ini menjadi ikon buah eksotis di Banyuwangi. Pengembangan akan terus dilakukan agar rasa dan tekstur buah tidak berubah,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi usia panen durian yang cukup lama hingga 12 tahun, Eko menggunakan metode “Top Working”. “Caranya pohon buah durian akan disisipi dengan bibit durian merah. Dengan cara seperti ini, maksimal 3 tahun kemudian sudah bisa dipanen. Harganya juga lumayan paling murah Rp 120.000 sampai Rp 300.000 per buah,” jelasnya.

KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Durian berwarna merah dengan rasa legit manis dan gurih dari Banyuwangi, Jawa Timur.
“Siwayut”, durian merah warisan buyut

Tidak susah mencari rumah Mbah Serad (74), pemilik durian merah yang tingal di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Gang masuk rumahnya tertulis “Gang Durian Merah”. Mbah Serad merupakan generasi keenam yang memelihara indukan Durian merah. “Usianya sudah ratusan tahun. Awalnya ya cuma ini. Tempat ini dulunya hutan dan durian ini warisan dari buyut saya,” jelasnya.

Ia menjelaskan durian merah miliknya panen mulai bulan Desember, Januari, Februari, dan Maret. “April gini sudah mulai jarang,” katanya. Mbah Serad Ia menjelaskan jika pada musim panen, banyak pedagang buah yang menginap di rumahnya untuk mendapatkan durian merah yang jatuh. “Rebutan beli. Sampai nginep-nginep. Kan jatuhnya buah durian itu jam 2 malam. Saya ndak jual di pinggir jalan,” tambahnya.

Tidak seperti pedagang buah yang selalu meminta biji durian merah untuk dikembalikan, Mbah Serad mempersilahkan pada pedagang untuk membawa dan menanamnya. “Saya malah senang kalau dikembangkan dan bisa ditanam lagi. Pernah ada orang Perancis yang membeli biji buah durian merah Rp 10.000. Katanya mau ditanam di Filipina. Saya mempersilakan saja,” katanya sambil tersenyum.

Biasanya saat panen Mbah Serad akan mendapatkan 300 buah durian yang mendapat julukan “siwayut” atau warisan buyut. Rasanya yang legit, manis, asin dan gurih serta meninggalkan jejak rasa yang khas membuat durian siwayut ini menjadi buruan para penikmat durian.

Sambil tertawa Mbah Serad berkata, “Banyak yang percaya buah merah untuk vitalitas, jadi laki-laki harus coba durian merah.” Source:kompas.com
Penulis : Kontributor Banyuwangi, Ira Rachmawati
Editor : I Made Asdhiana

Related posts

Leave a Comment