Ayo Membaca..! Oleh : Herki Mahendra, S.Pd (Jurnalis Lintas Media, Tinggal di Solo)

Di era globalisasi dan canggihnya teknologi informasi, masih perlukah kita bicara tentang budaya membaca? Masih relevankah bila kita ramai-ramai menggelar promosi gemar membaca dan budaya membaca?

Jawaban tegas atas kedua pertanyaan di atas adalah jelas tetap perlu. Kita, toh, tetap membaca, sekalipun informasi tersebut tersaji dalam berbagai bentuk/format. Masalahnya adalah membaca belum menjadi kebiasaan bagi mayoritas orang Indonesia, termasuk warga Salatiga pada umumnya. Dapat dikatakan, membaca belum menjadi kebutuhan
dalam hidup kita ini.
Dalam kehidupan masyarakat Indonesia pada umumnya, membaca belum menjadi budaya warga.
Hal ini dapat dimaklumi karena masyarakat kita masih harus berkutat dengan permasalahan seharihari. Masyarakat masih memikirkan kebutuhan yang lebih hakiki, seperti pangan, sandang, dan papan. Mereka masih dihadapkan kepada berbagai kenaikan bahan pokok dan biaya sekolah anak-anak. Tak jarang, anak-anak pun menghabiskan waktunya untuk membantu orang tua mencari nafk ah. Jadi, hampir tak ada waktu untuk memikirkan membaca atau belajar.
Meskipun demikian, kita tidak boleh tinggal diam. Pasalnya, membaca adalah salah satu
fungsi penting dalam hidup. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Padahal
kecerdasan seseorang hanya bisa diasah dengan belajar. Dengan kata lain, agar bangsa menjadi
cerdas, harus diawali dari kegemaran membaca sejak dini.
Sistem Pendidikan Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya minat baca di kalangan masyarakat kita. Selain factor budaya, situasi pendidikan di kelas dan ruang kuliah juga sangat berpengaruh dalam menarik minat baca. Siswa cenderung merasa cukup dengan pelajaran yang mereka peroleh dari guru. Mahasiswa pun tak merasa kurang dengan fotokopi bahan
kuliah dari dosen. Padahal, setiap manusia memiliki keterbatasan.
Guru dan dosen juga memiliki keterbatasan. Sehingga, jika mau jujur, pelajaran dari guru atau
fotokopi bahan kuliah dari dosen saja sangat jauh dari cukup. Selain itu, kita menyadari bahwa sistem pendidikan di Indonesia ini masih lemah. Tidak semua anak mampu bersekolah. Apabila bersekolah pun, tidak semua sekolah mempunyai fasilitas belajar yang memadai yang mampu mendukung proses pembelajaran.
Faktor yang lain adalah kebiasaan masyarakat kita yang senang berkumpul lantas ngobrol. Ngobrol
untuk diskusi dan saling bertukar pengetahuan memang baik. Tetapi, jika ngobrol hanya untuk
menghabiskan waktu berarti kita sudah membuang waktu dengan percuma. Daripada untuk ngobrol
yang tidak bermanfaat, lebih baik waktu kita digunakan untuk membaca
Media elektronik pun ternyata turut menjadi penyebab rendahnya minat baca. Acara-acara
yang disuguhkan oleh media elektronik lebih menarik bagi masyarakat kita. Memang, kita tidak
bisa sepenuhnya menyalahkan media elektronik. Pasalnya, memilih untuk membaca atau tidak
bergantung kepada masyarakat sendiri. Rendahnya minat baca ini masih diperparah dengan langkanya bahan bacaan yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan pembaca.
Mulai dari Rumah Sebenarnya, banyak hal yang dapat kita lakukan, untuk membantu masyarakat agar menjadi gemar membaca dan menjadikan membaca sebagai kebutuhan. Pertama, mulailah dari rumah. Tanamkan kebiasaan membaca sejak anak masih kecil. Orang tua membacakan cerita kepada anaknya, dan membiasakan anak-anak membaca. Kedua, gunakan taman bacaan dan rumah pintar di daerah perumahan, lingkungan RT, des, serta kota untuk merangsang hasrat membaca. Sediakan koleksi bacaan yang bermutu dalam berbagai macam minat atau hobby. Koleksi yang beragam akan menarik minat orang untuk membaca. Ajaklah
masyarakat untuk membentuk kelompok Cinta Buku; Gemar Membaca sebagai pioner membangun
taman bacaan. Ketiga, mengadakan lomba membaca dalam periode tertentu juga diperlukan untuk
meningkatkan pemahaman dan wawasan masyarakat. Keempat, usahakan, adakan perpustakaan
wilayah dan perpustakaan keliling yang dapat menjangkau masyarakat yang jauh dari pusat kota.
Terakhir, sediakan buku-buku yang digemar anak-anak. Membangun generasi baru yang cerdas
harus dimulai dari anak-anak. Mengingat kebiasaan membaca ini sangat penting
untuk menciptakan generasi yang cerdas, kita perlu berupaya agar setiap kita dapat berperan serta untuk meningkatkan dan memberdayakan kemampuan yang ada pada kita. Siapapun kita, apapun peranan/ pekerjaan kita, mari kita bergandengan tangan, bahu membahu mencerdaskan bangsa melalui kebiasaan membaca. Pilih sarana yang paling dekat yang tersedia di sekitar kita untuk menyebarluaskan kebiasaan membaca ini. Cobalah dari sekarang, dari diri kita sendiri, dan keluarga kita sendiri. Bawalah kebiasaan ini ke teman, keluarga, handai taulan, dan rekan. Bila masing-masing kita sudah melakukan, saya yakin, dari kota Salatiga akan muncul generasi muda yang
cerdas penerus pemimpin bangsa. (*

Related posts

Leave a Comment