Darurat Pendidikan Karakter

Berbagai kasus kekerasan telah terjadi pada dunia pendidikan, baik itu pendidikan dasar,  enengah, sampai perguruan tinggi. Peristiwa yang terjadi berupa perundungan fi sik dan psikis, penganiayaan, perkelahian, sampai dengan tawuran. Hal itu lalu berakibat pada munculnya luka fi sik, beban psikis
yang traumatik, bahkan hilangnya nyawa. Konfl ik yang menjadi akar permasalahan pun beragam, mulai dari pertikaian antarpelajar, penganiayaan oleh “senior”, permasalahan antara guru dan siswa, maupun perselisihan antara guru dan orang tua siswa. Setelah kasus kekerasan terjadi, langkah – langkah represif seperti penyelesaian secara kekeluargaan, pemberian sanksi, atau membawa kasus ke pengadilan dilakukan. Lantas bagaimana dengan tindakan preventif untuk menghindari kasus serupa terulang kembali, atau mencegah kasus lain yang lebih besar terjadi? Peristiwa kekerasan pada institusi pendidikan yang diketahui masyarakat selama ini hanyalah fenomena gunung es belaka. Banyak peristiwa kekerasan lain pada institusi pendidikan yang terkadang hanya diketahui oleh pelaku dan korbannya. Bahkan bisa jadi pada saat ini, berbagai kasus kekerasan pada dunia pendidikan sedang bertumbuh. Menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Kasus kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan menunjukkan lemahnya sikap mental dan karakter positif yang seharusnya menjadi napas pendidikan. Kenyataan tersebut telah menunjukkan gambaran yang jelas, bahwa esensi pendidikan karakter tengah berada di persimpangan. Sejatinya, pendidikan karakter bukanlah hal baru. Pendidikan karakter telah “diselipkan” secara implisit maupun eksplisit pada berbagai kurikulum pendidikan yang pernah diterapkan di Indonesia. Dalam satu dasawarsa terakhir, pendidikan karakter telah diterapkan pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006. Berikutnya pada 2011, ditetapkan 18 nilai dalam pendidikan karakter oleh Kemendiknas yang harus dicantumkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Kedelapan belas nilai tersebut yakni religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/ komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.
Pada 2016 telah dirumuskan konsep dasar Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang bertujuan untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati (etika), olah rasa (estetika), olah pikir (literasi) dan olah raga (kinestetik) dengan dukungan publik dan kerja sama antara
sekolah, keluarga, dan masyarakat yang merupakan (GNRM). Konsep PPK itu sendiri merupakan implementasi dari UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 yakni “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab”. Selain itu, PPK juga terkait dengan agenda Nawacita nomor 8 yakni penguatan revolusi karakter bangsa melalui budi pekerti dan pembangunan karakter peserta didik sebagai bagian dari revolusi mental. Ironisnya, semakin pendidikan karakter digaungkan, semakin bertambah pula deretan kasus kekerasan yang terjadi pada dunia pendidikan. Apa yang telah dicantumkan dalam berbagai model pendidikan karakter tersebut memang terdengar puitis dan bermakna. Akan tetapi, perlu upaya yang tidak mudah dalam mewujudkannya. Pendidikan karakter yang selama ini dipasang secara elegan dan meyakinkan dalam kurikulum diharapkan bisa berfungsi sebagai fi lter dan tameng atas segala macam perilaku negatif. Sayangnya, banyak pihak merasa seolah telah mendapatkan garansi bahwa pendidikan karakter telah dapat menangkal segala sikap buruk dan menjadikan para peserta didik menjadi manusia yang berakhlak mulia, santun, beretika, dan sederet karakter positif yang lain. Padahal, pendidikan karakter bukan sekadar teori dan implementasi, namun juga iklim yang lebih kondusif. Keberhasilan pendidikan karakter bukan tanggung jawab dunia pendidikan semata. Pendidikan karakter sulit berdaya guna jika terus menerus digempur oleh hal-hal negatif. Sungguh tidak mudah untuk berharap pendidikan karakter dapat berhasil, apabila di luar sana masih banyak tayangan berkonten tidak mendidik, sebaran berita bohong pada sosial media yang merajalela, ujaran kebencian yang tidak terkendali, kriminalitas yang
kian menjadi, sikap buruk oknum pejabat dan tokoh masyarakat yang tidak menunjukkan etika dan teladan yang baik, serta perseteruan kaum elite politik yang seolah tiada berkesudahan dan tidak dapat dijadikan panutan.
Peribahasa mengatakan, ke mana tumpah hujan dari bubungan, kalau tidak ke cucuran atap? Maksudnya, anak-anak -dalam hal ini pelajar ataupun peserta didik- tentu akan selalu mengikuti sifat atau teladan yang ditunjukkan oleh orang tua dan lingkungan sekitarnya. Perlu kesungguhan, keteladanan, komitmen, dan tanggung jawab semua pihak untuk dapat mewujudkan pendidikan karakter yang akan menyelamatkan moralitas anak bangsa. Harapannya, kasus kekerasan dalam institusi pendidikan dapat ditekan dan tak lagi mengulang luka lama. Identitas Penulis
Nama : Ary Yulistiana
Tempat tanggal lahir : Surakarta, 6 Juli 1982
Pekerjaan : Guru Bahasa Indonesia
Alamat : SMK Muhammadiyah I
Surakarta, Jl. Kahayan No. 1
Joyotakan Solo -0271646940
Email : ibuary@gmail.com
No HP : 082137323009
Selain mengajar, penulis telah menerbitkan beberapa novel di antaranya Th e 100th Dragonfl y (Mizan Grup), Lentera Aisha (Tiga Serangkai),
Mauve (Penerbit Andi), Sonnenblume (Grasindo), dan Cameo-Revenge (Grasindo), Sehelai Senja di Sevilla (Penerbit ARgumen). Artikel di surat kabar
antara lain “Generasi Internet, Bahasa, dan Sekolah” Solopos, Oktober 2015; “Revolusi Mental Ujian Nasional” Solopos, April 2016, “Guru untuk Pelita
Anak Bangsa”, Solopos, November 2016.

Related posts

Leave a Comment