PELATIHAN PEMBUATAN PELLET LELE DAN KONSENTRAT BEBEK Ir Sartono Putro. MT dan Dr Suranto. ST. MM Universitas Muhammadiyah Surakarta

Pengembangan usaha bagi peternak bebek, di Desa Jatingarang, Kecamatan Weru Sukoharjo, melalui SKIM program pengabdian masyarakat yang di danai oleh Ristek Dikti, yang di ketuai oleh Ir Sartono Putro MT dan anggota Dr Suranto ST MM, membuat dan penerapan alat produksi pakan ternak guna peningkatan produktivitas usaha bebek. Seperti telah diuraikan dalam pengabdian, untuk peningkatan manajemen usaha dilakukan pelatihan meliputi (a) Manejemen Bisnis, (b) Motivasi Kewirausahaan, (c) On Line Shop Marketing, kegiatan pelatihan sesuai gambar-1.

Gambar -1.Pelatihan Motivasi Kewirausahaan dan Manajemen Usaha

Peserta sangat antusias dalam kegiatan wirausaha yang dilaksanakan. Adapun alat yang di buat telah diaplikasikan oleh para peternak dan produktivitas mengalami kenaikan hasil. Adapun cara pembuatan pellet leledan kosentrat untuk bebek. Di awali dari kotoran dari bebek yang diternak digunakan untuk pupuk pertanian dan pakan ikan. Kotoran ternak bebek yang digunakan sebagai bahan baku pakan ikan memiliki keuntungan ganda yaitu: bagi Kelompok Tani “Mina Hadi” (KTMH) yang melakukan usaha perikanan lele bahan pakanini gratis, sedangkan bagi KTSM yang melakukan usaha ternak bebek dapat membantu mengurangi pencemaran. Usaha perikanan lele oleh KTMH Desa Jatingarang adalah pembesaran lele rata-rata 5000 ekor per periode.

Usaha perikanan pembesaran lele ini membutuhkan pakan lele buatan pabrik (pellet)  sebagai pakan utama. Harga pellet yang semakin meningkat menyebabkan banyak pengusaha perikanan lele yang gulung tikar. Upaya yang dilakukan KTMH untuk meminimalkan biaya pakan lele yaitu dengan cara membuat pakan tambah yang ekonomis dengan nutrisi dan kandungan protein yang tinggi. Azolla banyak dimanfaatkan untuk pakan ikan, gurame, nila, lele dll. Pakan tambah tersebut terbuat dari limbah ternak bebek yang diperoleh dari usaha ternak bebek KTSM dan tanaman. Penggunaan limbah ternak bebek dan tanaman azolla bisa menekan 40 persen biaya pembelian pellet.

Pembuatan pakan lele oleh KTMH dilakuakan dengan menumbuk manual kotoran kering ternak bebek yang berbentuk bongkahan dan tanaman azolla. Selanjutnya campuran kotoran ternak bebek dan tanaman azolla yang sudah jadi tepung dicampur dengan pellet dengan perbandingan 1 pellet : 2 campuran limbah bebek dan azolla. Proses penumbukkan bahan dan pencampuran dilakukan secara manual. Pembuatan pakan tambah yang dilakukan dengan cara ditumbuk manual ini tentu saja dapat menghambat pengembangan usaha perikanan lele di KTMH

Berdasarkan data arus kas usaha peternakan bebek dan usaha perikanan lele, menunjukkan bahwa penggunaan pakan tambah memberikan keuntungan yang cukup signifikan. Di sisi lain kedua usaha tersebut memiliki permasalahan mengenai proses produksi pakan tambah. Produksi pakan tambah dengan peralatan yang sederhana sangat membutuhkan waktu dan tenaga manusia yang besar, hal ini dapat menghambat kontinuitas proses penyiapan pakan ternak bebek maupun perikanan ikan lele.

Permasalahan tersebut, akhirnya tim Pengabdian Masyarakat dari LPPM Universitas Muhammadiyah Surakarta telah merancang bangun dan menerapkan alat produksi pakan tambah untuk usaha peternakkan bebek dan usaha perikanan lele. Program pengabdian masyarakat yang dilakukan menggunakan dana hibah dari Kemenristek Dikti melalui Program Iptek bagi Masyarakat (IbM) tahun 2016 dan Program Kemitraan (PKM) tahun 2017. Selain melakukan kegitan untuk peningkatan proses produksi, kegiatan pengabdian masyarakat juga melakukan penguatan dibidang manajerial melalui kegiatan pelatihan manajemen usaha dan kewirausahaan.

Penguatan di Bidang Produksi pakan tambah dengan menerap kembangkan peralatan produksi sebagai berikut (a) Unit tabung presto, digunakan untuk pembuatan pakan tambah ternak bebek menggantikan alat panci rebus untuk melunakkan bulu agar mudah dilumatkan dan mudah dicampur dengan bekatul dan konsentrat (b) Unit Mesin Pengging (disk mill) dan Penggiling Awal, digunakan untuk menggiling kotoran kering bebek yang berbentuk bongkahan. Kotoran bebek digiling menjadi tepung untuk pakan tambah usaha perikanan lele (c) Unit Pengaduk dan Pencampur, digunakan untuk mencampur pakan lele yang terdiri dari pellet dan tepung kering kotoran bebek. Adapun penguatan di bidang manajerial dilakukan kegiatan pelatihan dengan materi yang dipilih berdasarkan analisis bersama Pemerintah Desa Jatingarang dan Mitra mengenai kelayakan dan keterbatasan peluang usaha. Materi pelatihan dipilih untuk mewujudkan keinginan untuk penguatan organisasi dan menumbuhkan jiwa kewirausahaan generasi muda.

Related posts

Leave a Comment