Berawal Dari Mencuri Pagar Menjadi Juara Atliet Dunia

SOLO – Sukses adalah buah dari ketekunan, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kakung Popop. Menekuni membuat busur panah ini sejak 1977 hingga sekarang dan produksinya sudah ke mana-mana, termasuk ke mancanegara. Memanah dalam tradisi Jawa disebut dengan jemparingan. Jemparingan ini sangat mengandalkan insting untuk bisa membidik tepat sasaran. Kakung Popop memiliki nama asli Eddy Roostopo, yakni seorang pengrajin busur panah di Sriwedari Solo. Kakek 3 cucu ini lahir pada tanggal 16 Juli 1955 adalah sosok yang sederhana, hal tersebut dirasa ketika redaksi singgah ke rumah Popop.

Eddy Roostopo adalah seorang atlet Panahan Nasional, ia pernah memperoleh medali emas cabang olahraga panahan PON XI 1985 di Jakarta. Setelah pensiun menjadi atlet. Eddy Roostopo mulai membuat busur panah. Segudang prestasi Eddy Roostopo dalam cabang Panahan telah diraihnya. Medali – medali kakung ditata rapi dilemari di Sriwedari belakang Gedung Wayang Orang,

Pria asal Tawangmangu tersebut adalah mantan atlet Panahan PON yang kemudian beralih menjadi pembuat busur panah. Selain menekuni panah Eddy Roostopo sebagai penasehat dari komunitas jemparingan Matraman yakniSemut Ireng Pop Archery Sriwedari (SIPAS ). Sebuah komunitas pecinta Jemparingan / panahan tradisional.
Eddy Roostopo mengaku idenya membuat busur panah tersebut berawal dari ayahnya yang turun ke dirinya hingga sekarang. Produk busur panah yang dibuat kebanyakan tradisional terbuat dari bahan kayu dan bambu. juga melayani permintaan berkualitas nasional yang menggunakan bahan baku kombinasi dengan barang impor seperti karbon dan talinya.
Saat ditanya kenapa ia tertarik memanah, Eddy Roostopo bercerita mulanya dia pernah mencuri pagar bambu milik tetangga untuk membuat panah. Saat itulah ia mulai menekuni panah hingga dirinya menjadi Atlet Nasional kala itu.

“dalam membuat busur membutuhkan ketenangan dan ketelitian menjadi kunci suksesnya hingga sekarang”.

Berbekal ketekunan kini produknya terus digemari para atlet nasional dan bahkan ada pesanan dari luar negeri seperti Negara Hongaria. Produksi membuat busur panah tersebut rata-rata mencapai 10 set dalam satu minggu. Produk busur panah menggunakan bahan baku kayu sonokeling, eboni, dan sawo. Variasi harga dari Rp1,1 juta per set hingga Rp2,8 juta per set tergantung bahan yang digunakan. Harga anak panah sebanyak 12 batang rata-rata dijual antara Rp350 ribu hingga Rp500 ribu per dosen.

Saat ini Eddy Roostopo lebih memilih menekuni pembuatan peralatan memanah tradisional. Ia mengajak semua untuk belajar tentang panah di workshopnya belakang Gedung Wayang Orang.

“Siapa saja boleh berkunjung kesini, baik belajar maupun memesan busur”

Sementara itu dalam rentang waktu tiga bulan di tahun 2017 ini, Eddy Roostopo sudah dua kali datang ke Bali untuk memberikan workshop panahan tradisional (jemparingan) sekaligus mendampingi tim Semut Ireng Pop Archery Solo (SIPAS) berlaga di kejuaraan panahan tradisional dalam rangka HUT Pancer Langit. #gilang

Related posts

Leave a Comment