Toleransi Dalam Pandangan Kristen

Toleransi Dalam Pandangan Kristen

Oleh : Drs. Warta

Smk Negeri 1 Klaten

Toleransi berasal dari kata Latin tolere. Tolere artinya memikul beban yang seharusnya tidak ia pikul. Kata ini sebenarnya kurang tepat untuk menggambarkan hubungan yang seharusnya antar umat beragama. Mengapa? Karena untuk menjalin kerukunan bukan berdasarkan “beban yang tidak enak” itu atau karena perasaan tidak enak. Istilah yang tepat menghargai dan menghormati orang yang memiliki keyakinan, kepercayaan atau agama lain. Namun kata toleransi ini sudah terbiasa kita dengar. Sehingga kata ini memiliki arti atau makna yang sama dengan menghormati dan menghargai orang yang memiliki keyakinan, kepercayaan, atau agama lain.

Sebagai manusia yang hidup di tengah-tengah dunia yang pluralistik / penuh dengan keberagaman ini, orang Kristen mau tidak mau harus berjumpa, berinteraksi, berurusan, berkaitan dengan orang-orang yang tidak seiman baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara maupun bermasyarakat. Di negara Indonesia misalnya, mau tidak mau, suka tidak suka, orang Kristen hidup berdampingan dengan orang-orang dari berbagai agama dan kepercayaan. Dalam kondisi semacam ini adalah penting bagi orang Kristen untuk memikirkan bagaimana relasinya dengan orang-orang berkepercayan lain. Jika tidak maka semua itu berpotensi untuk mengakibatkan banyak gesekan, bentrokan, kekacauan, bahkan kerusakan yang akan mengganggu ketentraman dan kedamaian hidup bersama.

Orang Kristen harus berpegang teguh pada iman eksklusifnya sekaligus hidup bertoleransi dengan orang beragama lain. Lalu bagaimana kedua hal itu bisa berjalan bersamaan dan tidak saling meniadakan ? Di sinilah umat Kristiani harus kembali melihat bagaimana memahami toleransi yang sesungguhnya, yang Alkitabiah.

Dasar-dasar Alkitabiah yang sudah dipaparkan pada bagian I menunjukkan bahwa toleransi yang ditunjukkan pada orang lain / agama lain adalah suatu sikap penghormatan dan penerimaan yang tulus terhadap iman / keyakinan orang lain tetapi itu tidak berarti mengakui apa yang mereka katakan tentang kebenaran apabila klaim itu bertentangan dengan klaim kebenaran Kristen. Dalam Matius 5:45 tertulis “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.”

Dalam ayat ini jelas bahwa Tuhan menerbitkan matahari bagi orang jahat. Tapi apakah itu berarti Tuhan menyetujui kejahatannya? Jelas tidak! Orang jahatnya dikasihi tapi kejahatannya tidak disetujui atau bahkan kejahatannya dibenci. Ia menurunkan hujan bagi orang tidak benar. Tapi apakah itu berarti Tuhan menyetujui ketidakbenarannya? Jelas tidak! Orang yang tidak benar itu dikasihi dengan pemberian hujan kepadanya tapi ketidakbenarannya sama sekali tidak disetujui oleh Tuhan. Jadi terlihat bahwa Tuhan bertoleransi kepada orangnya tapi tidak kepada pandangan / pikiran / perbuatannya.

Dalam konteks iman Kristen mengenai toleransi

  1. Tuhan itu baik bagi semua orang (Mazmur 145:9)
  2. Barangsiapa tidak mencintai ia tidak menyembah Allah (1 Yohanes 4:8)
  3. Gereja mengecam setiap diskriminasi
  4. Gereja mengecam penganiayaan berlandaskan warba kulit, status sosial, ajaran yang berbeda.

Kasih sebagai dasar toleransi beragama

  1. Matius 22:39
  2. I Korintus 13: 4-7

Dasar toleransi umat beragama

  1. Kesamaan harkat dan martabat manusia sebagai gambar dan rupa Allah. (Kejadian 1:26)
  2. Persaudaraan yang universal (Roma 10:12 ;Galatia 3:28)
  3. Keselamatan universal terwujud dalam Yesus Kristus, diperuntukkan bagi semua orang dan semua bangsa.

Cara membangun toleransi umat beragama

  1. Membangun kesadaran bahwa antar agama memiliki titik temu pada persoalan-persoalan etika dan moral
  2. Mengembangkan sikap dasar untuk saling terbuka, mengakui dan menghargai, serta  berdialog satu sama lainnya
  3. Meningkatkan pemahaman pihak lain melalui studi  bersama dan saling tukar informasi
  4. Menghindari cara-cara yang merusak kerukunan.
  5. Melakukan program bersama

–       Doa bersama

–       Studi tentang praktik keagamaan

–       Pembinaan bersama

–       Karya amal bersama.

Umat Kristiani diajarkan untuk saling menghargai, mengasihi sesama dan berbuat baik pada mereka serta menolong mereka ketika dalam kesusahan, tapi menyetujui apa yang mereka pahami, menerima apa yang mereka katakan sebagai kebenaran, apalagi menyesuaikan ajaran agama Kristen dengan ajaran agama mereka sama sekali tidak dapat dilakukan. Kalau melakukan hal itu, itu bukanlah lagi toleransi namanya melainkan kompromi.

Alkitab menjadi sumber dasar bagi kehidupan umat Kristiani yang bertoleransi dengan orang-orang beragama lain. Dengan demikian seorang Kristen haruslah orang yang bisa hidup bertoleransi dan rukun dengan kelompok-kelompok lain yang berbeda keyakinan / agama dengannya bahkan harus berbuat baik kepada mereka.

Salah satu prasyarat terwujudnya masyarakat yang modern yang demokratis adalah terwujudnya masyarakat yang menghargai kemajemukan (pluralitas) masyarakat dan bangsa serta mewujudkannya dalam suatu keniscayaan. Untuk itulah kita harus saling menjaga kerukunan hidup antar umat beragama. Secara historis banyak terjadi konflik antar umat beragama, misalnya konflik di Poso antara umat islam dan umat kristen. Agama disini terlihat sebagai pemicu atau sumber dari konflik tersebut.Sangatlah ironis konflik yang terjadi tersebut padahal suatu agama pada dasarnya mengajarkan kepada para pemeluknya agar hidup dalam kedamaian, saling tolong menolong dan juga saling menghormati.Untuk itu marilah kita jaga tali persaudaraan antar sesama umat beragama.

0Shares

Related posts

Leave a Comment