Guru BP Identik Artis Sekolah

Loading...

 Dra.Tri Hastuti

Koordinator Guru BK SMK Kosgoro 1 Sragen

Dra.Tri Hastuti wanita kelahiran Klaten tahun 1965 ini menuntut ilmu dikota kelahirannya saat Sekolah Dasar(SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA).  Menginjak usia dewasa wanita yang kerap disapa tri ini memilih melanjutkan ke perguruan tinggi di Surakarta tepatnya di Universitas Muhammadiyah Surakarta(UMS) tahun 1989 untuk mendalami ilmu psikologi. Ia juga pernah mengajar di salah satu SMK Purwakarta tahun 1990, ini merupakan pertama kali ia mendapat pengalaman mengajar.

Anak ketiga dari tiga bersaudara ini merupakan putri dari Alm. Suparno dan Almh. Suti yang dulu tinggal di daerah Sunting pada tahun 1992, kemudian ia tinggal di Sragen tepatnya di Perum Margo Asri RT 32/09 gang 8 blok 5 Puro, Karang Malang, Sragen bersama suaminya yang kerap disapa Agus Setiabudi dan kedua anaknya Agista Rizka Rahmawati,S.Keb dan Dimas Rudita Nugraha, S.I.Kom. Suaminya merupakan Kepala ICU di salah satu Rumah Sakit Sragen, kini Tri menjadi guru BP/BK di SMK Kosgoro 1 Sragen sekaligus menjadi staf kesiswaan dan Ketua BKK. Ia juga bertekat memerangi angka buta huruf di Indonesia, di Indonesia ini sudah tidak jaman lagi buta aksara/ huruf, ini ia buktikan dengan terjun langsung ikut serta  sebagai pengurus  Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat(PKBM) mengingat bahwa belajar tidak mengenal usia dan tempat.

Tidak mudah baginya menjadi guru Bimbingan Konseling atau Bimbingan Penyuluhan (BK/BP), untuk itu ia harus menjadi layaknya artis bagi anak didiknya agar semua tindak tanduk dan omongannya di patuhi oleh anak didiknya. Lebih dari itu didalamnya terkandung proses yang lama, mengingat bahwa profesinya adalah seorang guru yang harus menjadikan generasi muda lebih berkualitas. Bukan hanya artis namun beliau juga harus menjadi orang tua yang selalu hadir untuk membenarkan kepribadian anak didiknya yang salah, sekaligus dia juga harus menjadi teman disaat anak didiknya membutuhkan tempat untuk menuangkan isi hatinya. Hal ini mengingatnya pada peristiwa yang pernah dialaminya waktu SMA kelas IPA 3, ia melakukan indispiliner dengan menggunakan sepatu pantopel agar mendapat perhatian dari gurunya. Namun justru itu mengundang tundakan gurunya dengan memberi sanksi berdiri dibawah tiang bendera, hingga salah satu temannya pingsan, ia rasa ini tidak membangun karakter anak menjadi lebih baik. Disitulah mulai terbangun kepeduliannya untuk memberi sentuhan kepada generasi penerus bangsa supaya menjadi anak yang lebih berkarakter.

Ia mengutarakan pendapat bahwa anak usia remaja itu sedang mencari jadi dirinya,  mencari karakteristik dari lawan jenisnya dan suka diperhatikan oleh lawan jenisnya. Ia mendekati anak didiknya dengan cara yang halus dan ditanya baik-baik agar anak didiknya terpancing untuk sharing kepadanya, ia siap 24 jam menerima konsultasi dari anak didiknya hingga membuat keluarga kecilnya merasa cemburu karena terlalu memperhatikan anak didiknya, tapi ia merasa mendapat panggilan karena anak didiknya sedang butuh beliau. Ia merasa awet muda karena setiap hari bertemu dengan banyak anak. Karakter anak memang berbeda, tergantung bagaimana cara orang tua mendidik dalam mengawasi anaknya, kurangnya komunikasi , apalagi jika orang tuanya merantau maka anak otomatis akan kurang kasih sayang karena materi yang berkecukupan hanya akan menjerumuskan anak ke seks bebas, dan dunia kelam lainnya, banyak anak gagal karena salahnya pergaulan. Dengan adanya SmartPhone di kalangan anak-anak, bisa menjadi bermanfaat tetapi bisa juga merusak tergantung bagaimana kita memanfaatkannya dan peran orang tua dalam mendidiknya. Pendapatnya mengenai generasi muda saat ini bukan kecewa melainkan prihatin, dalam artian prihatin yang cenderung peduli. Harapan beliau bagi generasi yang akan datang hanya 2 kata yaitu harus menjadi anak yang sehat dan smart.(Lita/Dianika/Insan/Ira/Niya/Ristya/r)

loading...

Related posts

Leave a Comment