Guru Harus Punya Semangat Pelayanan Yang Tulus Dan Kasih Sayang

Loading...

 

Drs. F . Yoseph Samidi ,M.Pd – Kepala SD N Tempel Surakarta

GURU HARUS PUNYA SEMANGAT PELAYANAN YANG TULUS DAN KASIH SAYANG

Sejak dulu, sebutan guru digugu dan ditiru terus melekat tak akan hilang dimakan waktu. Kemudian guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa itupun tetap melekat hingga saat ini sampai waktu yang akan datang. Kendati guru sekarang sudah sejahtera hidupnya karena gajinya sudah tinggi ditambah dengan tunjangan tunjangan yang menarik ini disebut sengan Sertifikasi. Kita ketahui bersama Sertifikasi merupakan gaji keahlian untuk meningkatkan prestasi guru didalam mengajar, dengan demikian guru akan terus berpacu dalam meningkatkan skillnya khususnya dalam pembelajaran, sehingga kualitas atau mutu pendidikan di Indonesia akan terus meningkat, maju, dan berkembang. Namun, disamping itu peran guru harus memiliki semangat pelayanan yang tulus dan kasih sayang, “cintailah sesamamu manusia seperti mengasihi dirimu sendiri”, ungkap pak Samidi kepada Majalah DIDIK diruang kerjanya Rabu lalu 3 Juli 2019.

Mengenal seorang bapak yang lembut dalam berbicara ini sangat menyenangkan. Betapa tidak selain tutur bahasanya yang lembut ia dikenal sebagai sosok lelaki yang komunikatif terhadap siapapun yang mengajak bicara. Ia lahir 20 Mei 1961 di Purworejo Jawa Tengah. Selalu serius jika diajak bicara dan memiliki tatapan mata yang melankolis. Anak kedua dari 5 bersaudara pasangan bapak Cipto Sumanto dan ibu Maryam seorang petani. Ia sebutkan 5 orang bersaudara itu adalah Ngatirah, Samidi, Andreas Ngadri, Yustinus Sumanto, Martinus Sugimin. Pak Samidi mengaku senang dan bangga karena keluarga besarnya saling guyub rukun, gotong royong serta saling menghargai satu sama lain. Menceritakan riwayat pendidikannya Pak Samidi ini mengaku lulus dari SD N Telogo Guwo 1 Purworejo, lulus SMP Sanjaya Tawangsari Purworejo, lulus SMA “17” 1 Yogyakarta lulusan FKIP S1 Unisri Surakarta, lulusan S2 FKIP Unwidha Klaten dari Pendidikan Bahasa. Kemudian menceritakan riwayat kerjanya , pak Samidi yang memiliki nama baptis Yoseph ini pertama kali menjadi guru di SDN Yosodipuro Surakarta, kemudian pindah tugas di SDN Sumber 4 Surakarta, kemudian menjadi Kepala SDN Banyuanyar Surakarta, kemudian menjadi Kepala SDN Tempel Surakarta. Ia mengaku akan mengakhiri tugasnya menjadi seorang guru atau pensiun yakni Juni 2021. Disela sela kesibukannya, peraih juara 2 guru berprestasi tingkat Kecamatan Banjarsari tahun 1989 ini berharap agar sekolah yang dipimpin bisa maju dan berkembang baik dari segi baik ademik maupun non akademik. Banyak prestasi yang diraih oleh sekolah ini antara lain juara 3 terbaik Evaluasi PHBS Sekolah UPT, Puskesmas Banyuanyar Surakarta, Tergiat 3 Pesta Siaga Kecamatan Banjarsari, juara 3 Kewirausahaan Islami tingkat Kecamatan Banjarsari, juara 2 Balap karung Estafet FIK Olimpik Kota Surakarta, juara 3 lomba Gobak Sodor Olimpik Surakarta 2019.

Ia memiliki motto hidup hati yang bersuka ria adalah obat yang paling manjur.Bersama anak dan istrinya pak Samidi tinggal di alamat Pondok Barunpermai A.12 Makam Haji Sukoharjo rt 07/rw 22.
Disebutkan SD N Tempel memiliki guru PNS yang sudah bersertifikasi ada 12 orng.Jumlah guru TKPK ada 3 orang, jumlah Guru Wiyata Bhakti 2 orang, karyawan (tukang kebun) 1 orang . Kemudian jumlah kelas terdapat 12 rombel ada Perpustakan, Mushola, UKS, Kantin, dan Ruang Kegiatan Ekstrakurikuler. Sekolah kami termasuk mewah terdiri 2 dari lantai, aman, nyaman,dan rindang karena banyak pepohonan dan taman taman. Sekolah ini juga pernah ikut lomba Adiwiyata tingkat Kota Surakarta, pernah ikut lomba Sekolah Sejati, termasuk Kantin Sehat. Pak Samidi minta nanti setelah beliau tidak memimpin lagi sekolah ini harus netral jangan sampai ada istilah diskriminasi kendati selama ini tidak ada sekolah memiliki fisi dan misi meningkatkan dan mengamalkan pendidikan karakter pada anak yang didalamnya, antara lain anak harus mengenal lingkungannya dengan baik, mengenali budaya khususnya kesenian reog karena sekolah ini dikenal dengan keseniannya yang sangat menonjol serta sering ikut lomba gugus yang dikemas dalam Kirab Budaya.
Suami dari Dra. Budi Astuti, M.Pd.K. yang sehari-hari berdinas tugas sebagai Penyelenggara Agama Kristen Kementerian Agama Surakarta ini memiliki 2 orang anak yakni Gideon Herman Wibisono, S.Pd (guru SMP N 19 Surakarta), kemudian Naradita Dewi Marganingsih S, Tp bekerja di PT. Delta Dunia Teknologi. Selaku orang yang dituakan di sekolah ini Pak Samidi selalu mengajarkan tentang cinta kasih karena Indonesia menganut paham kemajemukan dan religius yang tinggi agama apapun mengajarkan tentang saling mengasihi diantara sesama manusia.Beliau selalu mengajarkan tentang budaya komunikasi khususnya di lingkungan sekolah, antara guru dan murid, orang tua, serta masyarakat sekitar harus proaktif dalam membahas masalah pendidikan, jika ada masalah harus diselesaikan dengan azas kekeluargaan. Sekolah ini memiliki daya dukung yang sangat bagus selain gedungnya yang dekat dengan jalan raya Adi Sumarmo, halaman luas, dekat dengan lapangan, letak strategis dengan masjid serta dikelilingi oleh pohon lindung yang menjadi peneduh cuaca. Ditambahkan setiap ruang kelas ada kipas angin sebagai pendingin ruangan. Diakhir perbincanganya dengan Majalah DIDIK Pak Samidi mengaku sering menangis ketika teringat ayahnya yang sudah dipanggil Tuhan terlebih dahulu waktu itu sakit di usia 45th terkena penyakit kanker usus, ketika beliau masih kelas 1 SMP. Mengapa beliau menangis? Karena belum bisa membalas budi apa yang telah diperbuat ayahnya tersebut.Hanya do’a yang bisa dipanjatkan kepadaNya. (Ris/Tari/Insan/Niya/Ristya/Ira/Dianika/r)

loading...

Related posts

Leave a Comment