Kuncinya Ikhlas dan Jujur

Loading...

Kepala TK Aisyiyah 20 Pajang Surakarta

Guru, digugu dan ditiru. Salah satu yang mendasari minat seseorang menjadi guru adalah rasa ikhlas mewujudkan karakter anak bangsa. Hal ini tak luput dari Sri Lestariningsih, wanita kelahiran Surakarta, 12 Januari 1952 ini awalnya tidak minat menjadi seorang guru, namun karena dorongan dari Almarhum suaminya yang kebetulan juga seorang guru agama di SMK N 7 Surakarta, Lestari akhirnya mengabdikan dirinya di TK Aisyiyah 20 Pajang sejak umur 25 tahun sampai sekarang. Dia mengaku bahwa dirinya tidak sabar menghadapi anak kecil yang pada waktu itu masih muda.
Lestari dipinang oleh Kus Rohani BA seorang Guru PNS di SD Jajar. Lestari dan Kus Rohani dijodohkan orang tua mereka pada tahun 1968 kemudian tinggal di Kidul Pasar RT 02 RW 5 Pajang Laweyan. Akhirnya pasutri ini mempunyai 4 orang anak yang sekarang 2 anaknya tinggal di Sumatra, 1 di Yogyakarta, dan 1 di Surakarta, Lestari juga sudah mempunyai cucu. Rohani meninggal dunia di tahun 1980, pada saat Lestari umur 24 tahun, anak yang paling besar umur 10 tahun, kemudian adiknya 8 tahun, 5 tahun, dan 3 tahun. Lestari ditawari untuk menikah namun ia tidak bersedia, dia takut karena Lestari memiliki anak perempuan dan akhirnya sampai sekarang Lestari tidak menikah.
Anak ke 6 dari 9 bersaudara ini berjuang menghidupi keempat anaknya, Lestari bekerja sebagai buruh jahit sprei gorden setelah pulang dari TK Aisyiyah 20 Pajang, Lestari mendapat gaji 2500,1500 untuk membeli beras dan 1000 untuk saku keempat anaknya, dan gaji pensiun suaminya untuk kehidupan sehari-hari. Hal ini berjalan dalam kurun waktu 5-6 tahun berturut- turut.
Setelah anaknya menduduki bangku SMP kelas IX, Lestari ingin menitipkan anaknya ke toko-toko milik temannya agar bisa bekerja. Namun tak disangka ternyata semua anaknya bisa lanjut hingga jenjang kuliah, Lestari tidak tahu dia bisa mendapatkan uang dari mana, Lestari pun sampai heran, semua kehidupan yang dijalani terus berjalan. Lestari bersyukur karena mampu menyekolahkan anaknya sampai kuliah. Dalam angannya, Lestari nanti akan menggunakan uang pensiun suaminya untuk biaya naik Haji dan Umrah, setelah semua anaknya lulus kuliah dan menikah.
Lestari berdoa “Jika memang saya masih dibutuhkan, berilah saya kekuatan, kesehatan, dan keikhlasan untuk menerima ini semua.” Lestari tidak mengharapkan imbalan apapun kecuali minta kesehatan. Wanita yang pernah bersekolah di salah satu SD di Pajang ini mempunyai pengalaman di organisasi adalah pernah menjadi Ketua PKK RT dan RW, Ketua II PKK Kelurahan, Ketua PGI Kecamatan Laweyan, Pimpinan Ranting Aisyiyah. Meskipun sudah merasa tua,Lestari masih mengikuti kegiatan sekolah dan Lestari pun mengikuti bahkan sampai anaknya melarang,namun bagaimana lagi,Lestari masih menjadi Kepala Sekolah di TK 20 Pajang. Kemudian melanjutkan SMP di SMP Batik dan melanjutkan di KGTK Guru Keprabon .Lestari merasa dirinya sudah tua dan dia tidak ingin mencari apa apa, Lestari hanya mencari akhirat. Dia pun tidak ingin membeli gelang, kalung, dan baju yang mewah-mewah.
Wanita berdarah Jawa ini menuturkan bahwa suka duka menjadi seorang guru itu semuanya menyenangkan. Sekarang dengan dulu itu sudah lain, kalau dulu jika ada pengumuman harus menyebarkan undangan ke wali murid satu persatu, sekarang tinggal via Whatsapp saja sudah bisa. Lain orang tua lain juga anaknya, jika anak jaman dulu diberi tahu tentang gajah terbang tidak protes, jika anak sekarang berani protes karena lebih aktif. Jika jaman dahulu ,menyimpan arsip hanya dengan coretan di kertas, beda dengan sekarang arsip bisa di tuliskan di Laptop. Lestari mengatakan bahwa “Kunci dari kesuksesan adalah ikhlas dan jujur.”

loading...

Related posts

Leave a Comment