Siswa OJT ( On The Job Training) Siap Terjun ke Lapangan.

 Ketrampilan tidak harus didapatkan diruangan tetapi bisa juga didapatkan di lapangan khususnya yang berkaitan dengan media cetak atau media elektronika,hal itu merupakan tuntutan dari dunia usaha atau industri dimana para lulusan SMK setelah melakukan studinya, mampu menyelesaikan dunia kerja. Dunia kerja akan menerima Sumber Daya Manusia(SDM) yang memiliki kualitas atau keterampilan yang memadai. Tentunya SDM yang dimaksud harus sesuai dengan tingkat kebutuhan suatu perusahaan tersebut.

Berkaitan dengan hal tersebut, belum lama ini SMK negeri 1 Boyolali secara serentak melepas putra putri nya untuk melakukan prakerin di beberapa perusahaan atau lembaga pendidikan yang ada corelasi tentang materi pembelajaran di sekolah. Prakerin dimaksudkan untuk menambah wawasan yang belum tersampaikan di sekolah juga menambah pengalaman di Dunia Industri, sehingga nanti setelah lulus akan mendapatkan pekerjaan yang sesuai kompetensinya. Ketrampilan yang dimiliki dengan benar dapat direalisasi sesuai kebutuhan kerja yang diharapkan oleh perusahaan yang bersangkutan. Hal itu disampaikan oleh Sri Mulyani, S. Kom. selaku guru pembimbing SMK Negeri 1 Boyolali dalam kesempatan tersebut Sri Mulyani minta agar ana-anak tetap semangat mengikuti peraturan yang berlaku dimana mereka melakukan prakerin, sehingga perusahaan yang dituju bisa menyambut baik serta memberikan kepercayaan tentang tugas pokok dan fungsinya. Ini semua penting, karena ketrampilan merupakan syarat mutlak bagi lulusan untuk selanjutnya dipakai untuk melamar pekerjaan dan menciptakan pekerjaan sendiri. Prakerin yang berlangsung selama 5 bulan dimulai sejak tanggal 17 Desember 2018 hingga 15 Maret 2019 yang akan datang memiliki arti dan makna yang sangat penting karena prakerin ini sesuai dengan jurusan yang ditekuni oleh para siswa yakni yang berkaitan dengan dunia media, dunia cetak mencetak, serta dunia periklanan.

Ia minta agar para siswa tetap menjaga citra almamater karena Citra almamater itu memiliki arti dan makna yang sangat tinggi dalam sebuah budaya publik. Citra yang baik itu akan membawa dampak positif dalam suatu lembaga pendidikan. Disebutkan oleh Ani 8 orang siswa siswi yang melakukan prakerin di majalah didik adalah Insan Latifah, Ira Novitasari, Dianika Fitriani, Ristya Dewiyanti, Niya Anjeliya, Deni Kristanto, Hanang Edi, Fakhri Yazid. Mereka akan melakukan pembelajaran tentang materikulasi tentang ilmu jurnalistik serta melakukan hunting atau liputan dengan beberapa narasumber khususnya adalah di bidang pendidikan baik negeri maupun swasta. Mereka akan bertemu dengan para narasumber khususnya kepala sekolah, kepala dinas pendidikan, guru berprestasi, siswa berprestasi, wali kota, sekda, DPRD, atau para direktur atau pimpinan lembaga pendidikan non formal.

Sementara itu, pemimpin redaksi majalah didik, Ristanto, S. Sos., M. Si. dalam sambutan singkatnya mengaku senang dan bangga karena anak-anak yang dikirim atau yang melakukan prakerin tahun ini terlihat semangat dan cerdas terbukti di hari pertama ketika diberi materikulasi tentang pengetahuan umum, mereka nampak antusias dan terlihat hingar bingar karena ilmu yang didapat di majalah didik ini disekolah sama sekali belum pernah diajarkan. Para siswa diajarkan tentang bagaimana membuat berita straight news, menulis opini, teknik estetika memotret yang baik dan benar, teknik wawancara, teknik melobi, teknik lay out, teknik menulis dan menyunting berita. Ristanto menekankan bahwa ilmu jurnalistik yang diajarkan akan menggiringi siswa bahkan setelah lulus, untuk bisa menjadi wartawan bahkan,  menulis jurnalistik itu merupakan kewajiban bagi setiap pegawai dalam lembaga apapun khususnya bagi para guru harus bisa menulis karya ilmiah, karya jurnalistik, demi kepentingan kenaikan pangkat dan golongan.

Siswa siswi harus konsentrasi, disiplin, kreatif, inovatif, serta memiliki kepercayaan diri atau confident. Percaya diri itu merupakan modal dasar bagi seorang jurnalis, ketika pertama kali menginjakkan kaki nya di pelataran media cetak maupun elektronika. Selama kurang lebih 4 bulan dipastikan para peserta prakerin akan mampu menerapkan diri sesuai kapasitas nya yakni sebagai jurnalis pemula yang mampu menjawab tantangan jaman. Dalam pembukaan prakerin tersebut diserahkan ID Card kartu pers sebagai pelengkap diri dalam melakukan tugas liputan di lapangan. Tujuannya jelas, yakni untuk melindungi atau mengayomi para wartawan agar di dalam melaksanakan tugasnya bisa aman dan nyaman. Dihari pertama, Peserta prakerin juga dihadapkan langsung dengan narasumber untuk diwawancarai yaitu Dra.Tri Hastuti, M. Pd. (koordinator guru BK SMK Kosgoro 1 Sragen), dan Dimas Rudita Nugroho, S. I. Kom. alumni komunikasi UMS 2018. Keduanya mengaku senang dan bangga dengan peserta prakerin yang dinilai sangat cerdas. Tri Hastuti mengaku bangga dan senang, hal itu bisa dilihat dari durasi interview yang dilakukan di ruang redaksi majalah didik. (pklsmk/r)

Related posts

Leave a Comment